Permasalahan Toko Sembako yang bisa muncul ini berdasarkan pengalaman saya sendiri dalam mengelola toko. Mungkin saja berbeda-beda kasusnya untuk setiap toko, wilayah ataupun jenis toko sembakonya.
Kenapa ini penting? Karena terkadang masalah ini terlihat sepele namun dampaknya sangat besar untuk keuntungan, operasional toko, dan keberlanjutan.
Masalah Tata Letak
Sering terjadi, pelanggan yang datang kebingungan dan kesulitan untuk mencari barang yang mereka inginkan. Padahal saya sendiri sudah meletakkannya sesuai dengan kategori yang ada. Seperti makanan, yang bahkan saya pisah untuk jenis cemilan umkm, kemudian roti, bahan roti, bumbu dapur.
Apa solusinya yang terapkan? Saya melakukan penataan dengan baris yang tepat. Barang yang saling berkaitan satu sama lain didekatkan. Sebagai contoh untuk tepung (terigu, tapioka, kanji, dll) berada dekat dengan garam, gula, margarin, dan bahan kue lainnya.
Tergantung tipe pelanggan, kasus saya diatas merupakan contoh untuk pelanggan pedagang dan ibu rumah tangga. Pedagang yang sering berbelanja yaitu martabak, cilok, leker, siomay, dan warung makan padang.
Buatlah list untuk setiap pengguna, contohnya;
Pelanggan 1; Pedagang Cilok
- Tepung Terigu
- Tepung Kanji
- Bawang Putih
- Royco
- Garam
- Kecap
- Saos
Dapat darimana data tersebut, yaa dari database pelanggan. Karena saya menggunakan database pelanggan. Pelanggaan saya diberikan kartu member yang ada poin untuk ditukarkan menjadi potongan belanja.

Buat kelompok untuk tiap pelanggan;
Sebagai contoh, saya kelompokkan pelanggan dengan bahan baku yang sama yaitu Pedagang Cilok, Martabak, Siomay, dan Leker. Saya kelompokkan dalam satu kategori yang berhubungan dengan tepung-tepungan. Walaupun ada yang jadi makanan manis dan makanan asin.
Pasti ada irisan besarnya untuk pelanggan dengan kategori yang sama ini.
Letakkan barang-barang yang menjadi irisan satu kelompok ini dalam satu rak yang sama, ataupun dalam satu deret kanan ke kiri ataupun kiri ke kanan. Akan sangat memudahkan bagi mereka untuk mengambil barang belanjaan. Kemudahan inilah yang nantinya akan menjadi alasan mereka untuk kembali lagi ke toko dan rutin berbelanja.
Administrasi Permasalahan Toko Sembako
Saya banyak menemui pedagang toko sembako yang tidak memiliki pencatatan rapih. Kenapa penting? Untuk bahan evaluasi, laporan keuangan yang baik, dan juga untuk basis data pengecekan.
Apa saja yang perlu dicatat? Sebagai prinsip dasar, ada 2 yaitu keuangan dan barang
Laporan Barang dan Keluar
Laporan mengenai barang dagangan dari pembelian, hutang tempo, konsinyasi harus jelas, barang retur karena rusak ataupun kadaluarsa.
Kita harus mengetahui dengan jelas kemana perginya barang yang ada, apakah menjadi profit atau malah kehilangan yang tak diinginkan. Tentunya ingin profit rill kan.
Laporan Keuangan
Pastinya orang dagang/bisnis nyari untung. Wajib banget pencatatan keuangan yang baik dan benar. Kesalahan dari banyak pedagang toko kelontong adalah kurang detail dalam perhitungan untuk margin kotor total dari seluruh barang.
Hal yang sering terjadi salah menghitung bahwa margin kotor sudah oasti 15% setiap bulan. Misal, omzet bulan Januari Rp 100 juta, maka margin kotor 15% atau Rp 15 juta. Bulan Februari ternyata omzetnya juga Rp 100 juta maka dihitung juga margin kotornya Rp 15 juta. Kesalahan semacam ini bisa fatal akibatnya.
Padahal setiap bulan terkadang ada kejadian tak terduga dan penjualan item bisa berbeda dengan margin yang berbeda pula.
Sebagai contoh rokok harga jual Rp 25.000 memiliki margin Rp 2.000 atau hanya 8%. Jadi ketika Rp 100 juta hanya dari rokok saja maka hanya Rp 8 juta margin kotornya.
Untuk barang yang memiliki margin tinggi air mineral dengan harga jual Rp 4.000 dengan margin Rp 2.000 atau 50%. Penjualan Rp 100 juta akan memiliki amrgin Rp 50 juta.
Sedangkan toko sembako sendiri memiliki ratusan bahkan ribuan item, tak mungkin langsung dibagi rata. Padahal jumlah item terjual dan nominalnya berbeda untuk setiap barang.
Itu dia 2 permasalahan besar yang perlu diperhatikan oleh pemilik usaha toko sembako.